Sabtu, 16 Maret 2013

MENGENANG KISAH RAJA BRAMA KUMBARA

Saur Sepuh adalah sebuah sandiwara yang disiarkan
melalui media radio pada tahun 1980-an
di Indonesia. Saur Sepuh mengambil
latar pada masa
pemerintahan Raja Hayam Wuruk pada zaman kerajaan
Hindu Buddha
Majapahit di nusantara. Serial ini mampu memukau
jutaan
pendengarnya di
seluruh pelosok
nusantara. Hampir di
tiap-tiap jam tertentu,
masyarakat dengan
seksama
mendengarkan serial
ini. Pada saat itu,
radio adalah satu- satunya media
hiburan rakyat
Indonesia yang masih
langka, sehingga
untuk
mendengarkannya mesti secara
beramai-ramai ke
rumah tetangga
yang memiliki radio. Serial sandiwara ini
adalah karya Niki
Kosasih sebagi
pencetus ide dan
cerita. Perusahaan farmasi Kalbe Farma sebagai produsen
obat-obatan
ternama menjadi
mitra utama dari
serial ini. Dengan
durasi 30 menit dipotong iklan
produk obat-obatan,
serial ini mampu
menghipnotis para
pendengarnya untuk
berhenti beraktivitas, dan
berkonsentrasi
untuk
mendengarkannya. Sinopsis Ceritanya berpusat
pada Brama
Kumbara, seorang
pewaris tahta
kerajaan
Madangkara yang pada awal kisah
diceritakan tengah
dijajah oleh kerajaan
Kuntala. Setelah
kemudian Brama
berhasil menumbangkan
kekuasaan Kuntala
dan memulihkan
kedaulatan
Madangkara, kisah
berlanjut dengan permusuhan antara
Brama dengan
Gardika yang ingin
mengembalikan
kekuasaan Kuntala. Dalam sebuah
pertarungan dengan
Gardika, Brama yang
terluka parah oleh
ajian serat jiwa milik
Gardika diselamatkan oleh seekor burung
Rajawali raksasa.
Burung rajawali ini
kemudian menjadi
sahabat Brama.
Rajawali bahkan kemudian
menunjukkan kepada
Brama di mana
tersimpan kitab asli
ajian Serat Jiwa,
yang ternyata adalah milik kakek
Astagina, kakek dari
Brama. Secara tidak
sadar, ilmu yang
selama ini dipelajari
oleh Brama dari Kakek Astagina
(ajian Tapak Saketi,
ajian Gelang Gelang,
dan ajian Bayu
Bajra) adalah bagian
dari ajian Serat Jiwa. Brama berhasil
menguasai ajian
Serat Jiwa hingga ke
tingkat paling tinggi
(Tingkat 10). Permusuhan Brama
dan Gardika akhirnya
mencapai puncaknya
ketika keduanya
berduel
mempertaruhkan antara hidup dan
mati, berakhir
dengan tewasnya
Gardika di tangan
Brama. Gardika yang
sepanjang hidupnya banyak melakukan
kejahatan
digambarkan
tubuhnya hancur
menjadi tepung. Dalam perjalanannya,
Gardika ditemani oleh
seorang bernama
Kendala. Pada
dasarnya Kendala
adalah orang baik. Setelah Gardika
tewas di tangan
Brama, Kendala
mendapat
pengampunan dari
Brama dan kemudian mengabdi kepada
Madangkara. Kisah kemudian
dilanjutkan dengan
perseteruan antara
Brama dengan
Panembahan Gunung
Saba, pada bagian ini dikisahkan bahwa
Ajian Serat jiwa yang
sebelumnya dianggap
sebagai ilmu tertinggi
menemukan
tandingannya yaitu ajian Waringin
Sungsang. Brama
yang hampir tewas
setelah bertarung
hidup mati dengan
dua murid Panembahan Gunung
Saba (Kijara dan
Lugina) malah secara
tidak sengaja
mendapatkan ajian
Lampah Lumpuh yang digambarkan tidak
dapat dikalahkan.
Dalam perjalan cerita
dikisahkan pula ada
ajian Cipta Dewa
yang merupakan olahan dari intisari
dari ajian serat jiwa
yang dikuasai oleh
Lasmini,ilmu ini
diperkirakan lebih
hebat dari ajian lampah lumpuh milik
Brama ,namun tidak
pernah terbukti
mengalahkan Brama
secara
langsung.Sampai akhir cerita ajian
lampah lumpuh tidak
terkalahkan, hanya
1 kali bertanding
imbang dengan ilmu
Ikatan Roh milik biksu Tibet. Kisah kisah Saur
Sepuh : DARAH BIRU PERJALANAN
BERDARAH SINGGASANA
BERDARAH BARA DI BUMI
ANGKARA BANJIR DARAH DI
BUBAT SASTRAWAN DARI
JAMPARING SENGKETA TANAH
LELUHUR SATRIA MADANGKARA DARAH PUTRA
SANGGAM PESANGGRAHAN
KERAMAT TELAGA RENA
MAHAWIJAYA KEMBANG GUNUNG
LAWU MUTIARA DARI TIMUR AIRMATA DI
MADANGKARA PERAWAN BUKIT LEJAR PERGURUAN ANGGREK
JINGGA TITISAN DARAH BIRU ISTANA ATAP LANGIT DIATAS LANGIT ADA
LANGIT SEPASANG WALET
PUTIH ↑Kembali Ke Bagian
Sebelumnya Tokoh Brama Kumbara (suara diisi oleh
Ferry Fadli): Raja
Madangkara, kakak
dari gusti putri Dewi
Mantili, Beristrikan
Dewi Harnum, Pramitha. Murid dari
Ki Astagina. Brama
Kumbara memiliki
ajian gelang-gelang,
Serat Jiwa, Ajian
Waringin sungsang, Ilmu Ciptadewa.
Brama Kumbara
Diperankan oleh
Fendi pradana. Mantili (suara diisi oleh Elly Ermawati):
Adik dari Brama
Kumbara, mempunyai
pedang setan dan
pedang perak.
Pedang setan akan mengeluarkan asap
beracun sementara
pedang perak
mampu membutakan
mata. Mantili
mempunyai musuh bebuyutan yaitu
Lasmini, wanita
sundal yang
mengumbar cinta
dimana-mana. Dewi Harnum : (suara diisi oleh Nani
Sumardi)Istri
pertama Brama
Kumbara Paramita (suara diisi oleh Maria Oentoe) : Istri kedua Brama Kumbara Raden Samba (suara diisi oleh Edy
Dhosa) Lasmini (suara diisi oleh Ivonne Rose):
Perempuan
penggoda, yang
menebar cinta
dimana-mana.
Mempunyai Ilmu Cipta Dewa yang mampu
mengalahkan mantili
dalam duel berdua.
Lasmini menyimpan
dendam membara
pada Brama Kumbara karena cintaya yang
tidak terbalaskan.
Diperankan oleh
murti sari dewi. Bongkeng (suara diisi oleh Bahar
Mario) Merit (suara diisi Mario Kulon) Patih Gotawa (suara diisi oleh
Petrus C.Urspon):
Suami Mantili Raden Bentar (suara diisi oleh
Petrus C.Urspon):
Putra Senopati
Sadeng dan Dewi
Pramitha sekaligus
anak tiri dari Brama Kumbara. Raden
Bentar merupakan
generasi kedua Saur
sepuh setelah Brama
Kumbara dan Mantili
bertapa disuatu tempat. Garnis Waningyun (suara diisi oleh Anna
Sambayon pernah
juga Novia
Kolopaking): Kakak
kandung Raden
Bentar. Kelak ia bahu membahu dengan
raden Bentar untuk
mempertahankan
Madangkara dari
gerogotan orang-
orang Kuntala. Raden Wanapati : Putra Mahkota
Madangkara yang
menggantikan Brama
Kumbara. Dibawah
kendali Wanapati,
Madangkara banyak bergejolak, ketidak
puasaan akan
kepemimpinan kaum
muda yang emosional
di tentang oleh
kaum-kaum tua yang telah berjasa pada
Madangkara. Raden Paksi Jaladara (suara diisi
oleh Bambang
Jeger) : Putra dari
Mantili dan Patih
Gotawa Dewi Anjani (suara diisi oleh Novia Kolopaking) : Anak Lasmini. Mempunyai
wajah yang amat
mirip dengan Lasmini.
Raden Bentar yang
cinta mati dengan
Lasmini (tapi ditentang Mantili)
akhirnya tertarik
juga dengan Dewi
Anjani. Dalam menjalin
Cinta Raden Bentar -
Dewi Anjani, ada pihak ketiga yaitu
sekar kedaton
Madangkara Dewi
Rara Amiati ↑Kembali Ke Bagian
Sebelumnya Kisah Cinta Brama Kumbara Brama pernah
mencintai seorang
wanita. Kisah cinta ini
muncul dalam episode
berjudulBara di Bumi Ankara, dimana dalam
perjalanannya di Ankara, Brama jatuh cinta dengan
seorang putri raja
bernama Putri
Doria.Cinta
pertamanya itu
terbunuh dalam sebuah pertempuran.
Sosok Brama yang
gagah, tampan, dan
karismatik banyak
menarik perhatian
wanita, termasuk Lasmini yang pada
akhirnya menjadi
musuh
bebuyutannya. Di
antaranya yang
akhirnya berhasil mengambil hatinya
adalah sosok Dewi
Harnum. Dewi Harnum
hampir selalu menjadi
pendamping Brama
dalam perjalanannya. Dia juga yang
menjadi satu-
satunya saksi
pertarungan
dahsyat Ajian Serat
Jiwa tingkat 10 melawan Ajian Serat
Jiwa tingkat 10
antara Brama
dengan Gardika
(musuh bebuyutan
Brama). Namun kemudian
Brama dan Harnum
bertemu dengan
Paramita, seorang
janda beranak 2
(Raden Bentar dan Garnis) yang juga
menaruh hati kepada
Brama Kumbara.
Harnum kemudian
bersahabat erat
dengan Paramita. Dan ketika Brama
kemudian
menyunting Harnum,
Harnum setuju
dengan satu syarat
jika Brama juga menyunting
Paramita. Mantili Sebenarnya cinta
sejati Mantili adalah
Raden Samba. Namun
karena sifat Mantili
yang keras, mereka
sering bertengkar dan pada akhirnya
Mantili malah
menikah dengan
Patih Gutawa. Raden
Samba yang
kemudian menikah dengan wanita lain
ternyata masih
menyimpan hati
kepada Mantili,
akibatnya
pernikahannya jadi tidak harmonis. Di kemudian, hari
putra Raden Samba
datang ke
Madangkara mencari
Mantili untuk
membalas dendam karena menganggap
Mantili sebagai
penyebab
ketidakharmonisan
keluarganya. ↑Kembali Ke Bagian
Sebelumnya Saur Sepuh di layar
lebar Setelah sandiwara
radionya sukses dan
menjadi populer
secara nasional, Saur
Sepuh merambah ke
layar lebar pada tahun 1987.
Bekerjasama dengan
Kanta Indah Film, Kalbe Farma turut mendanai pembuatan
film Saur Sepuh yang
disutradarai oleh sutradara ternama Imam Tantowi. Saur Sepuh akhirnya dirilis
di film layar lebar
secara nasional pada
tahun 1987, dan
setelah sukses
besarnya juga diikuti oleh empat film
sekuelnya dalam
sebuah waralaba. Lima film serial Saur
Sepuh tersebut
yaitu: Saur Sepuh: Satria
Madangkara (1987)
Film Saur Sepuh:
Satria Madangkara
terjadi pada latar
zaman kerajaan Majapahit. Film ini dirilis tahun 1987,
dengan disutradarai
oleh Imam Tantowi dan dibintangi oleh
Fendi Pradana
sebagai Brama
Kumbara, Elly
Ermawatie (yang
juga mengisi suara Mantili dalam versi
sandiwara radionya)
sebagai Mantili, dan
Murti Sari Dewi
sebagai Lasmini. Bibit konflik dan
peperangan mulai
tumbuh di bumi
Kerajaan Majapahit
setelah Bhre Wirabhumi mendirikan Kerajaan Pamotan
dan bertekad untuk
merebut tahta
kerajaan besar yang
menjadi besar di
bawah kepemimpinan ayahnya, Prabu Hayam Wuruk, dari tangan Wikramawardhana, menantu ayahnya
tersebut. Dalam
kekacauan tersebut,
kekasih Lasmini,
seorang hulubalang
dari Kerajaan Pamotan, tewas di
tangan Brama
Kumbara karena
telah membunuh
utusan dari Kerajaan
Madangkara yang berniat mendamaikan
pertikaian Kerajaan
Pamotan dan
Majapahit. Lasmini
tidak terima atas
kematian kekasihnya tersebut sehingga
menuntut balas pada
Brama Kumbara,
seorang satria
gagah berani dan
bersahaja dari Kerajaan
Madangkara yang
menjadi buah bibir di
warga Madangkara.
Akan tetapi ketika
berhadapan dengan Brama Kumbara,
Lasmini menjadi
terpikat dan jatuh
hati pada Brama,
namun dia juga
menjadi muak pada Mantili, adik
kesayangan Brama.
Kisah ini menjadi awal
mula kisah cinta
tragis dalam serial
Saur Sepuh, dimana cinta Lasmini pada
Brama tidak terbalas
dan menjadi musuh
bebuyutan Mantili. Saur Sepuh II: Pesanggrahan
Keramat (1988) Setelah sukses lewat
Satria Madangkara,
Kanta Indah Film
kembali memproduksi
sekuel dari film
pertamanya dengan judul Pesanggrahan
Keramat. Film yang
dirilis tahun 1988 ini kembali disutradarai
oleh Imam Tantowi dan masih
menggunakan
pemeran-pemeran
yang sama dengan
Satria Madangkara. Dalam Pesanggrahan
Keramat, makam dari guru Brama Kumbara
dibakar dan dirusak
oleh komplotan yang
dipimpin Ki Jara dan
Ki Lugina yang di
dukung oleh Karti, seorang saudagar
dari Kuntala. Brama
menjadi murka dan
menuntut balas pada
orang-orang yang
telah membakar makam gurunya. Film
ini menggambarkan
adegan-adegannya
secara sesuai
dengan yang
diceritakan dalam versi sandiwara
radionya. Antara lain
dalam adegan dimana
Brama dilempar
pisau, namun tiba-
tiba menghilang dan muncul di belakang
orang yang hendak
membunuhnya. Saur Sepuh III: Kembang Gunung
Lawu (1988) Setelah sukses
kedua kalinya lewat
Pesanggrahan
Keramat, Kanta
Indah Film kembali
memproduksi Kembang Gunung
Lawu sebagai bagian
waralaba Saur
Sepuh. Kembang
Gunung Lawu dirilis
tahun 1988 dan kembali disutradarai
oleh Imam Tantowi dan masih
menggunakan
pemeran-pemeran
yang sama dengan
Satria Madangkara.
Film ini berkisah tentang latar
belakang Lasmini,
salah satu tokoh
utama dalam kisah
cinta tragis Saur
Sepuh, yang dikenal dengan nama
"Kembang Gunung
Lawu" dengan
perguruan "Anggrek
Jingga"-nya. Lasmini adalah istri
dari seorang
pedagang di Kawali
yang diperkosa oleh
anak buah suaminya
dan kemudian dibuang ke jurang.
Dalam keadaan
sekarat, Lasmini
mendapat
pertolongan dari
seorang nenek tua yang kelak akan
menjadi gurunya.
Setelah berilmu,
Lasmini kembali ke
Kawali dan menuntut
balas secara keji ke orang-orang yang
telah memperkosa
dan membuangnya.
Tindakan Lasmini
yang sewenang-
wenang mengundang Mantili untuk ikut
berduel, walaupun
pada akhirnya kalah
oleh kesaktian
Lasmini. Dengan
ajaran ajian Srigunting dari
kakaknya, Prabu
Brama Kumbara,
Mantili kembali
berduel dengan
Lasmini. Dengan latar duel di pantai yang
penuh dengan efek
khusus yang
memukau penonton
kala itu, film ini
banyak menarik penonton perfilman
Indonesia kala itu.
Film Saur Sepuh 3
dengan tokoh
sentral Lasmini. Saur Sepuh IV: Titisan Darah Biru (1991)
Dirilis pada tahun
1991, Titisan Darah
Biru menceritakan
tentang generasi
kedua dari Kerajaan Madangkara dengan
tokoh utama Raden
Wanapati, Raden
Bentar, dan Garnis
Waningyun. Titisan
Darah Biru dibintangi oleh Adi Kuncoro
sebagai Wanapati,
Candy Satrio sebagai
Bentar dan Devi permatasari sebagai Garnis Waningyun.
Secara keseluruhan
film ini dinilai
mengalami kemajuan
dibanding-film-film
pendahulunya dari segi penataan
musiknya. Cerita dalam Titisan
Darah Biru
cenderung lepas dari
film-film
pendahulunya. Film ini
menceritakan tentang
kepemimpinan
Wanapati yang
cenderung emosional
sehingga banyak
menghadapi tentangan dari kaum
sesepuh kerajaan
Madangkara.
Sementara sang
Prabu Brama
Kumbara yang sedang bertapa
hanya menjadi tokoh
pembantu dalam film
ini.Saur Sepuh V: Istana Atap
Langit (1992) Istana Atap Langit
merupakan film
terakhir dalam serial
waralaba Saur Sepuh
yang dirilis tahun 1992 dan disutradarai Torro Margens. Walaupun Imam Tantowi tidak kembali
menyutradarai film
ini, Istana Atap
Langit dinilai sebagai
bagian serial
waralaba layar lebar Saur Sepuh yang
terbagus dari segi
kualitas, efek
khusus, tata suara
serta ilustrasi musik.
Cerita dalam film ini juga lebih tepat
dimasukkan ke dalam
kisah sentral film
Saur Sepuh, karena
kembali
mengetengahkan kisah tiga tokoh
utamanya, yaitu
Prabu Brama
Kumbara (Fendi
Pradana), adiknya
Mantili (Elly Ermawatie), dan
Lasmini (Murti Sari
Dewi). Biksu Kampala dan Biksu Targhu, dua
biksu pengelana dari
negeri Tibet hadir di Kerajaan
Madangkara untuk
mengenal kerajaan
yang kecil namun
makmur bersahaja
yang dipimpin Prabu Brama Kumbara
tersebut. Namun
kehadiran mereka
justru dianggap
sebagai musuh
setelah Lasmini menyebarkan isu
bahwa Kampala
datang untuk
membunuh Prabu
Brama Kumbara. Isu
Lasmini tersebut akhirnya menebar
kekacauan dimana
pun Biksu Kampala
dan Biksu Targhu
hadir. Mantili
menyadari niat buruk Lasmini yang
mengail di air keruh
dan membuat Lasmini
marah setelah
utusannya, Kijara
dan Lugina tewas di tangan Mantili.
Mantili akhirnya
menyadari
kekeliruannya dan
kemudian meminta
Brama Kumbara supaya turun tangan
untuk menyelesaikan
semuanya. Di akhir
cerita, Raden Bentar
dititipkan oleh Prabu
Brama Kumbara ke dalam asuhan Biksu
Kampala untuk
mendalami ajaran Buddha di negeri Tibet.

1 komentar:

  1. Bantu buat Kartu Kredit BANK BNI dengan beragam fasilitas dan diskon, free iuran tahun pertama di manapun anda berada di seluruh pelosok nusantara Kartu Kredit BNI, adalah Kartu Kredit BNI MasterCard dan BNI VISA, baik Kartu Biru, Emas
    maupun Platinum berikut Kartu Tambahannya.
    100% berkas aman cukup fc ktp.slip
    gaji/skp kartu kredit npwp
    khusus karyawan gaji min 3 jt perbulan.owner lampirkan fc ktp siup dan npwp bila memiliki kartu kredit bisa dilampirkan
    proses maks 10 hari kerja.Diskon 15% untuk makanan dan minuman dengan minimum transaksi Rp 150.000,- dan maksimum transaksi Rp 2.000.000,-.
    Diskon 20% untuk menu makanan Hot Kitchen (tidak termasuk Toast/Honey Toast/Beverage) dengan minimum transaksi Rp 150.000.- dan maksimum transaksi Rp 2.000.000,- (sebelum diskon, pajak dan servis).
    Garuda Indonesia Travel Fair 2014, kerjasama Bank Negara Indonesia dengan Garuda Indonesia, one stop shopping untuk paket wisata Anda dengan harga spesial menggunakan Kartu Kredit dan Kartu Debit BNI.
    Diskon cicilan 0% selama 3 & 6 bulan atau cicilan bunga ringan 0,8% selama 9 & 12 bulan dengan transaksi minimum Rp 1.000.000,-
    Hemat hingga 50% atau maksimum Rp 1.000.000,- dengan BNI Reward Points.
    Informasi lebih lanjut hubungi BNI Call 500046 atau 021-500046/68888 dari ponsel.atau dengan marketing kami cabang BNI SEMARANG
    chairul sarto utomo via sms telp
    085229348635, 085600125176 pin bb 3166854C. TELP KANTOR ( 024 ) 33051946 FAK 024 86455931

    BalasHapus